pages

October 15, 2013

Don't Abuse Me





Surat terbuka untuk teman:

Saya memang baru akan berumur 28 tahun di tahun depan, tapi tahukah anda, saya hidup 28 tahun dalam arena pertandingan yang sulit. 
Saya memang tergolong muda dalam komunitas kita, tapi saya sudah menjadi tua sebelum waktunya.
Saya memang sering diam untuk mendengarkan nasehat dan persepsi kalian, tapi bukan berarti saya tidak mempunyai kedekatan yang cukup dengan Tuhan untuk mengarahkan hidup saya.
Saya mengasihi dan menghargai arti pertemanan kita dengan scope dan intensitas-nya yang unik, namun itu tidak berarti kalian mempunyai hak untuk men-dikte bagaimana saya harus memaknai persahabatan dengan orang lain apalagi mengatur bagaimana saya harus mengasihi orang lain. 

Teman, tolonglah. Berhati-hatilah dengan persepsi yang didasarkan pada pengetahuan yang kurang lengkap tentang hidup saya atau hidup orang yang kalian bicarakan. Semua orang bisa saja berpendapat, tapi anda harus tahu batas antara berpendapat dengan menghakimi orang lain. Anda tidak pernah benar-benar tahu seutuhnya tentang saya, karena anda memang tidak pernah berjalan sepenuhnya di jalan saya atau jalan hidup orang lain. 

Kalian bilang kalian mendapat pimpinan Tuhan mengenai hidup saya. Sedangkan saya juga menerima pimpinan Tuhan dalam hidup saya. Apa yang kalian sampaikan, saya mendoakan hal tersebut. Namun, jangan paksa saya untuk melakukan apa yang kalian sampaikan karena saya tidak hidup untuk menyenangkan kalian. Saya tidak akan melakukan apapun untuk membuat anda tetap mengasihi saya dan menganggap saya sebagai bagian dari komunitas. Saya akan melakukannya jika Tuhan mengarahkan saya untuk melakukannya. Tapi menggunakan fungsi kontrol sampai anda tega melakukan abuse rohani terhadap saya. Saya hidup untuk menyenangkan Tuhan dan terus merelokasi hati saya di hadapan Tuhan. Saya mengalami tuntunan-Nya, pertumbuhan dilakukan-Nya dalam hidup dan karakter saya.

Saya terus memohon kepada Tuhan, dan mendoakan apa yang kalian katakan. Saya berdoa agar kita dapat berbicara dengan hati dan terbuka semua motivasi di dalam semua statement kita.


Sebelum menulis ini, saya telah mendoakan dan memaafkan kalian. Walaupun sampai saat ini, tidak pernah ada kata maaf karena kalian telah menghakimi tanpa mengkonfirmasi atau mengakuinya.



All for His Glory..


Maya






2 comments:

Rullyn Mandar said...

trimakasih buat tulisan pendek ini bahwa kita jangan mengutamakan menyenangkan hati orang tapi lebih mengutamakan menyenangkan hati Tuhan.

Rullyn Mandar said...

trimakasih buat tulisan pendek ini bahwa kita jangan mengutamakan menyenangkan hati orang tapi lebih mengutamakan menyenangkan hati Tuhan.