pages

January 11, 2011

Interest VS Sensitivity


Dalam beberapa waktu belakangan ini, saya sangat terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran : Bagaimana menghubungkan hal yang saya sukai dengan peran sosial yang harus saya ambil di tengah realita masalah sosial yang sangat memprihatinkan seperti ini?? Darimana saya harus memulainya??

Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan.. Pada saat melewati liburan beberapa minggu di kampung halaman (Kupang, NTT), saya bertemu dengan beberapa teman.. Masing-masing dari kami bercerita tentang mimpi-mimpi ke depan.. Beberapa tahun lagi apa yang ingin kami capai dalam hidup. Hanya sedikit sekali orang-orang yang memikirkan porsi tanggung jawab sosial dalam mimpi-mimpinya.. Banyak teman yang hanya memikirkan bagaimana ia berlomba dengan kesempatan bisnis, kesempatan masuk ke panggung politik, kesempatan untuk promosi jabatan dll... Apa yang salah dengan hal itu?? Yah, memang tidak ada yang salah dengan hal-hal itu.. Yang menjadi masalah dan mengusik saya adalah, apakah mereka benar-benar tahu mengapa mereka harus mengejar itu?? Apakah ada alasan yang lebih mendalam daripada hanya sekedar mengejar profil masa depan dan pengakuan eksistensi oleh banyak orang?

Saya memikirkannya.. Dan saya menolak profil masa depan yang kelihatannya menjadi impian banyak orang namun dangkal dalam makna hidup. Hasil yang benderang tapi miskin proses. Pertanyaan-pertanyan  ini muncul dengan sangat kuat sejak beberapa tahun yang lalu.. Beberapa kali, tapi tidak konsisten dan dengan intensitas perasaan yang semakin dangkal. Namun, akhir-akhir ini pertanyaan itu kembali menyayat hati dan saya menemukan diri saya masih terjebak dalam alur teori visi hidup yang menyesatkan.  Merancang banyak hal tentang masa depan. Namun di saat saya mengevaluasi diri, saya menemukan bahwa saya belum melakukan apapun untuk orang lain. Saya belum mengerjakan apa-apa untuk menolong zaman ini. Saya hanyalah pribadi yang mungkin bermanfaat untuk diri saya sendiri,keluarga dan mungkin beberapa teman dekat. Selebihnya, kehadiran saya di dalam dunia dapat dihapuskan dalam sekejap.

Saya merindukan ingin memakai minat, talenta, spirit yang ada untuk mengerjakan sesuatu yang berguna untuk menjawab realita masalah sosial. Dan kemudian saya kembali mengingat suatu perenungan yang pernah dibawakan oleh seorang kakak rohani beberapa bulan yang lalu. Tentang pemaknaan menjalani profesi yang merupakan kesukaan dan kepekaan terhadap realita kehidupan.



Foto di atas adalah hasil jepretan si Kevin Carter, Maret 1993. Ia memutuskan terbang ke Sudan, untuk mengambil foto pemberontak disana, namun disaat mendarat di desa Ayod, Carter memutuskan untuk memotret korban kelaparan, melihat gambaran rakyat Sudan yang kelaparan hingga mati. Ia berjalan menembus semak belukar, ia mendengar rintihan pelan, semakin lama semakin tinggi rintihannya. Ia melihat seorang anak perempuan kecil  yang sedang berjuang merangkak menuju ke pusat makanan. Disaat sang anak membungkuk kelelahan terlihat seekor burung pemakan bangkai di tampilannya. Ia menunggu tampilan terbaik dari burung pemakan bangkai, menunggu selama 20 menit, berharap sang burung melebarkan sayapnya, namun burung tersebut tidak melebarkan sayapnya, sang anak yang hampir mati kelaparan tersebut masih membungkuk di tengah jalan. Setelah Carter mengambil gambar, ia mengejar burung pemakai bangkai tersebut, mengusirnya, dan pergi.

Beberapa hari setelahnya, New York Times membeli foto tersebut, gambar tersebut langsung menjadi icon kesedihan Afrika. Ratusan orang menanyakan kabar anak perempuan kecil tersebut, namun New York Times tidak dapat menjawabnya, karena tidak ada laporan, apakah anak tersebut berhasil sampai ke pusat makanan. Foto ini pun memenangkan penghargaan Pulitzer, penghargaan fotografi tertinggi di dunia. Foto ini menggugah nurani seluruh masyarakat dunia, membuka mata manusia akan kelaparan yang terjadi di Afrika. Kalimat  di atas menunjukkan bahwa, fotografi mampu masuk ke dalam ranah sosial, menunjukkan pada dunia tentang realita sosial yang tertutupi, menampilkan sebuah karya seni yang memiliki nilai, karya seni yang menggetarkan emosi.

Namun dibalik kesuksesan Kevin Carter itu, tidak banyak yang tahu kehidupannya setelah peristiwa tersebut. Carter mendapat tekanan yang cukup besar, karena dianggap hanya sibuk membidik kamera tanpa mengindahkan nasib anak yang bersangkutan. Sayangnya, besarnya tekanan ini membuat Carter, tidak kuat hati. Pada Juli 1994, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan menghirup asap karbonmonoksida. Kondisi sang fotografer fenomenal ini sangat tragis. Di dekat mayatnya, terdapat secarik catatan yang berbunyi: 

"I am depressed ... without phone ... money for rent ... money for child support ... money for debts ... money!!! ... I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners..."
 “Saya depresi.. tanpa telepon.. tanpa uang untuk membayar sewa.. tanpa uang untuk menolong anak-anak.. tanpa uang untuk membayar hutang.. Uang!! Saya dihantui memori yang menakutkan tentang pembunuhan, bangkai, kemarahan, kesakitan, kelaparan atau luka yang dialami para anak-anak…” 

Yah begitulah akhir kisah hidup Kevin, sang fotografer yang berhasil membuat karya fenomenal.. Kalau saja, setelah ia mengambil gambar tersebut dan segera menolong anak kecil tersebut untuk mencapai tempat tersedianya makanan, mungkin ia tidak akan hidup dalam rasa bersalah yang mencekam seperti itu. Menunggu waktu yang tepat untuk mengambil sebuah gambar prestisius namun kehilangan rasa iba terhadap anak kecil yang sedang memperjuangkan kehidupannya.

Bagaimana dengan kita?
Hobby/interest, ambisi, mimpi bisa membutakan kita terhadap setiap peristiwa memilukan yang sedang terjadi di sekitar kita. Ruangan hati kita terlalu banyak dipenuhi oleh keinginan untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri tanpa sedikit pun ruang yang tersisa untuk berempati pada orang lain yang tidak mempunyai ikatan fungsional dengan keberadaan kita. Untuk apa semua yang kita kejar? Kalau hanya kehampaan yang akan ditemukan. Kehampaan karena tidak ada kasih di dalamnya.. Kehampaan karena tidak menemukan makna di dalamnya.. Kehampaan karena tidak bersama Tuhan..

Semoga kutipan refleksi yang saya kutip ini, menjadi bahan perenungan untuk teman-teman dan juga saya.. Yang sedang menata masa depan, yang sedang mempertanyakan panggilan hidup, yang sedang mempertanyakan makna kehidupan, yang sedang berusaha menjadi atau mengejar sesuatu..

“I felt very fortunate to live in this part of the world. I promise I will never waste my food no matter how bad it can taste and how full I may be. I promise not to waste water. I pray that this little boy be alleviated from his suffering.
I pray that we will be more SENSITIVE towards the suffering in the world around us and not be BLINDED by our own SELFISH nature and INTERESTS.  I hope this picture will always serve as a reminder to us about how fortunate we are and that we must never ever take things for granted".


1 comment:

Welly Lokollo said...

Great..
Kadang kita lebih mengejar mimpi, karir, cita-cita kita dan kita lupa mengenai tujuan Allah bagi hidup kita masing2.
Keep writing de :)